Desain Interior Kantor

Image

Istilah kantor bukan suatu hal yang asing bagi masyarakat dan sudah akrab kita dengar, terutama masyarakat perkotaan yang sebagian besar dari mereka umumnya bekerja di sebuah kantor, baik itu kantor besar maupun kecil. Kantor (dari bahasa Belanda kantoor) adalah sebutan untuk tempat yang digunakan untuk perniagaan atau perusahaan yang menjalankan pekerjaan tata usaha (pekerjaan kantor, pekerjaan tulis menulis) secara rutin, atau dalam ilmu manajemen, kantor diartikan keseluruhan ruang yang menjadi tempat pelaksanaan kegiatan tatausaha atau kegiatan manajemen atau tugas pimpinan lainnya dalam sebuah organisasi.[1]Aktifitas yang cepat, praktis ( tidak berbelit-belit ) dan efisien, merupakan hal yang diharapkan dari sebuah kantor, baik bagi karyawan, tamu, maupun pengunjung dalam kantor pelayanan.

Melihat kembali kantor biasannya telah memiliki struktur organisasi dan mekanisme pelayanan yang baik, hingga menjadi kantor percontohan bagi kantor pelayanan di kabupaten lain, dan desain interior yang baik akan menunjang berjalanya mekanisme tersebut. Alternatif perancangan interior ini diharapkan tepat pada sasaran, yaitu mengedepankan fungsional dan menampilkan budaya lokal untuk lebih di kenal dunia luar. Guna mengatasi permasalahan pada desain interior maka menggunakan beberapa pendekatan, mengingat sasaran desain interior  adalah pencapaian suatu tema dengan memperhatikan tingkat kenyamanan dan fungsi ruang untuk kebutuhan aktifitas manusia dalam suatu ruang. Pendekatan  bentuk dan fungsi terhadap desain pengisi ruang agar memberikan kenyamanan bagi pengguna dan diharapkan mampu mengusung suasana pada tema yang diangkat. Oleh karena itu, penerapan ilmu ergonomi sangat berperan pada suatu perencanaan bangunan, mengingat ergonomi merupakan ilmu yang mempelajari tentang kenyamanan bagi manusia sebagai pencapaian sebuah fungsi desain, serta ilmu antropometri yang mempelajari tentang ukuran tubuh manusia. Kenyamanan yang dicapai tentu tidak hanya dapat dilihat dari bentuk luarnya saja, tetapi juga melihat sisi keamanan dalam menggunakan produk tersebut.

Pendekatan bentuk pada interior kantor yang telah ada baik kantor pemerintah maupun kantor swasta memiliki bentuk ruang mengacu pada minimalis modern, karena melihat fungsi dan kenyamanan dalam beraktifitas (kerja),  Friedmann mengemukakan kegiatan mendesain interior tidak sekedar membuat karya seni semata karena di dalam desain bukan sekedar indah, aneh dilihat ataupun lain daripada yang lain saja. Namun, di dalam desain ada muatan manfaat dan aktivitas yang harus diakomodasi.[1] Sehingga akan diperoleh alasan fungsional yang tepat pada setiap keputusan desain yang dirancang. Perancangan desain interior yang kreatif, inovatif sesuai dengan tuntutan jaman dan perkembangan kebutuhan dari aktifitas yang mengarah pada kualitas fasilitasnya, yaitu bentuk perencanaan interior yang mampu memberikan perlindungan, kenyamanan, keamanan, menimbulkan rasa betah dalam suasana yang terjalin dengan lingkugan sekitarnya.[2]  Kegunaanya tidak hanya untuk pemenuhan kebutuhan sesaat, tetapi juga mampu mengantisipasi kebutuhan saat ini dan masa yang akan datang, [3]   yang pada akhirnya mampu meningkatkan pelayanan kerja.

Image

Pendekatan fungsi ruang dalam bangunan tentu dengan memperhatikan beberapa unsur, yaitu: aktivitas/perilaku manusia sebagai pengguna, kapasitas, dan juga antropometri. Perilaku manusia sebagai faktor penting untuk dipertimbangkan dalam mengawali proses perencanaan interior secara spesifik terkait dengan subjek rancangan. Perencanaan harus memperhatikan obyek pengguna yaitu manusia dengan aktifitasnya agar dicapai kenyamanan dan keamanan. Fakta di lapangan menunjukkan ada beberapa permasalahan yang perlu segera untuk dibenahi. Salah satu pemecahan masalahnya yaitu penambahan ruang untuk bidang penanaman modal dan sub bidangnya. Dengan penambahan ruang diharapkan mampu memberi tingkat efisien dalam aktifitas sebagai kantor pelayanan. Faktor ergonomi perlu menjadi pertimbangan dalam pemecahan desain. Ergonomi adalah ilmu terapan yang berusaha untuk menyerasikan pekerja dengan lingkungan kerjanya atau sebaliknya, dengan tercapainya produktifitas dan efisensi yang setinggi-tingginya melalui pemanfaatan manusia seoptimalnya. Sedangkan sasaran ergonomis adalah agar tenaga kerja dapat mencapai prestasi kerja yang tinggi (produktif) tetapi dalam suasana yang aman dan nyaman.[4] Dengan menggunakan ilmu ergonomi, diharapkan nantinya untuk perancangan interior dapat menjadi aspek dasar dalam membentuk kenyamanan saat manusia melakukan ”aktifitas” di dalamnya. Perlunya mengetahui keruangan dan elemen interior dapat dikaji keberadaannya agar permasalahan tersebut mampu dipecahkan dengan ilmu ergonomi sebagai ilmu yang mempelajari tingkat kenyamanan manusia dalam ruang. Oleh karena itu, supaya diperoleh desain yang baik pada perencanaan interior kantor secara teknis akan berpijak  pada ilmu ergonomi dalam pemecahan desain sebagai acuan pendekatan fungsi.

kantor yang bergerak pada pelayanan masyarakat tentu dalam penerapan desain perlu memperhatikan mengenai aspek-aspek  yang tidak boleh dilupakan, seperti diungkapkan pada Kepmenpan               ( Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara ) Nomor 26 tahun 2004  “Juknis Transparansi dan Akuntabilitas dalam penyelenggaraan Pelayanan publik” yaitu :

Transparansi dalam penyelenggaraan pelayanan publik utamanya meliputi :

  1. Manajemen dan Penyelenggaraan Pelayanan Publik

Transparansi terhadap manajemen dan penyelenggaraan pelayanan publik meliputi kebijakan, perencanaan, pelaksanaan dan pengawasan/pengendalian oleh masyarakat. Kegiatan tersebut harus dapat diinformasikan dan mudah diakses oleh masyarakat.[1]

  1. Prosedur Pelayanan

Prosedur pelayanan adalah rangkaian proses atau tata kerja yang berkaitan satu sama lain, sehingga menunjukkan adanya tahapan secara jelas dan pasti serta cara-cara yang harus ditempuh dalam rangka penyelesaian sesuatu pelayanan. Prosedur pelayanan publik harus sederhana, tidak berbelit-belit, mudah dipahami, dan mudah dilaksanakan, serta diwujudkan dalam bentuk Bagan Alir (Flow Chart) yang dipampang dalam ruangan pelayanan. Bagan Alir sangat penting dalam penyelenggaraan pelayanan publik karena berfungsi sebagai :

  1. Petunjuk kerja bagi pemberi pelayanan;
  2. Informasi bagi penerima pelayanan;
  3. Media publikasi secara terbuka pada semua unit kerja pelayanan mengenai prosedur pelayanan kepada penerima pelayanan;
  4. Pendorong terwujudnya sistem dan mekanisme kerja yang efektif dan efisien;
  5. Pengendali (control) dan acuan bagi masyarakat dan aparat pengawasan untuk melakukan penilaian/pemeriksaan terhadap konsistensi pelaksanaan kerja.[2]

Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pembuatan Bagan Alir, adalah :

  1. Bagan Alir harus mampu menggambarkan proses pelayanan, petugas/pejabat yang bertanggung jawab untuk setiap tahap pelayanan, unit kerja terkait, waktu, dan dokumen yang diperlukan, dimulai dari penerimaan berkas permohonan sampai dengan selesainya proses pelayanan;
  2. Model Bagan Alir dapat berbentuk bulat, kotak dan tanda panah atau disesuaikan dengan kebutuhan unit kerja masing-masing;
  3. Ukuran Bagan Alir disesuaikan dengan luas ruangan, ditulis dalam huruf cetak dan mudah dibaca dalam jarak pandang minimal 3 (tiga) meter oleh penerima pelayanan atau disesuaikan dengan kondisi ruangan;
  4. Bagan Alir diletakkan pada tempat yang mudah dilihat oleh penerima pelayanan.[3]
 
Lebih lanjut tentang Desainer
 
 
 
 
 
 

[1] Kepmenpan Nomor 26 tahun 2004 “Juknis Transparansi dan Akuntabilitas dalam penyelenggaraan Pelayanan publik”

[2] Kepmenpan Nomor 26 tahun 2004 “Juknis Transparansi dan Akuntabilitas dalam penyelenggaraan Pelayanan publik”

[3] Kepmenpan Nomor 26 tahun 2004 “Juknis Transparansi dan Akuntabilitas dalam penyelenggaraan Pelayanan publik”


[1] Friedmann, 1979, 144; dalam Sunarmi, Modul Mata Kuliah Desain Interior III (Surakarta: Prodi Desain Interior, 2007), 34.

[2] J. Pamudji Suptandar, “Desain Interior Pengantar Merencana Untuk Mahasiswa Desain dan Arsitektur”, (Jakarta: Djambatan, 1999), 11

[3] J. Pamudji Suptandar, (Jakarta: Djambatan, 1999), 1

[4] Sunarmi, Ergonomi dan Aplikasinya Pada Kriya, ( STSI Surakarta, 2001), 4.


[1] Ida Nuraida, “Manajemen Administrasi Perkantoran”, ( Yogyakarta: Kanisius, 2008), 2

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s